Sumatera Utara - Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya menegaskan pentingnya pengembangan industri kelapa sawit yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Hal itu disampaikannya saat membuka kegiatan Socfindo Conference on Practical Application & Exhibition (Scopex) 2026 di Hotel Adimulia Medan, Selasa (19/5/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Surya menilai industri sawit memiliki peran besar dalam mendukung perekonomian nasional. Namun, perkembangan sektor ini juga harus diiringi dengan inovasi dan tanggung jawab sosial.
Menurutnya, riset dan teknologi menjadi faktor penting untuk meningkatkan kualitas industri sawit di masa depan. Hasil penelitian yang ada juga diharapkan tidak berhenti sebatas teori maupun diskusi.
Baca juga: HUT Binjai ke-154, Pemprov Sumut Dukung Penguatan Infrastruktur Daerah
Ia menegaskan bahwa inovasi harus benar-benar diterapkan di lapangan agar mampu membantu petani meningkatkan produktivitas serta menekan biaya produksi.
Selain itu, Surya menilai penerapan teknologi juga dapat memperkuat daya saing industri sawit Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Pada kesempatan itu, Surya turut mengenang masa kecilnya yang tumbuh di lingkungan perkebunan sawit di Pulau Raja, Kabupaten Asahan.
Ia menceritakan bagaimana kondisi sosial di kawasan perkebunan pada masa lalu sangat berbeda dengan sekarang. Menurutnya, hubungan antara perusahaan dan masyarakat kini semakin terbuka dan harmonis.
Pulau Raja sendiri disebut sebagai lokasi awal penanaman kelapa sawit di Sumatera Utara oleh perusahaan asal Jerman dan Belgia.
Surya berharap perubahan positif tersebut terus terjaga, termasuk dalam membangun hubungan baik antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat sekitar perkebunan.
Baca juga: Event Kicau Mania Dinilai Mampu Gerakkan Ekonomi Masyarakat
Ia juga mengingatkan bahwa kesejahteraan rakyat harus menjadi perhatian utama dalam pengembangan industri sawit. Karena itu, perusahaan diharapkan tetap memperhatikan tanggung jawab sosial dan kelestarian lingkungan.
Sementara itu, Ketua Panitia Scopex 2026 Indra Syahputra mengatakan produksi kelapa sawit Sumut saat ini mencapai sekitar 2 juta ton per tahun.
Ia menjelaskan produktivitas perusahaan rata-rata mencapai 3,6 ton per hektare, sedangkan petani sekitar 2,5 ton per hektare.
Menurut Indra, peningkatan produksi dapat dilakukan tanpa harus membuka lahan baru. Salah satunya melalui penggunaan bibit yang tepat serta pengelolaan perkebunan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Kegiatan Scopex 2026 dihadiri ratusan peserta dari Indonesia dan Malaysia, mulai dari pelaku usaha, akademisi, hingga inovator yang membahas berbagai tantangan dan peluang industri sawit ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA UTARA