Jumat, 06 MARET 2026 • 23:15 WIB

Kurangi Emisi dan Kemacetan, BRT Mebidang Siap Layani 12 Koridor

Author

Rochani saat konferensi pers yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Sumut di Lobby Dekranasda, Kantor Gubernur Sumut, Jumat (6/3/2026). (Pemprov Sumut) 

Sumatera Utara - Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menargetkan sistem Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang mulai beroperasi pada tahun ini. Moda transportasi massal yang sangat dinanti ini akan menggunakan teknologi bus listrik yang ramah lingkungan. Kerja sama dalam pengadaan bus ini melibatkan pihak mitra dari Tiongkok untuk memastikan kualitas dan keberlanjutan operasional.

Pada tahap awal operasional, BRT Mebidang akan memfasilitasi sebanyak 12 koridor rute. Dari jumlah tersebut, 10 koridor berada di wilayah Kota Medan, sedangkan dua koridor lainnya melayani kawasan Mebidang. Kedua koridor yang berada di bawah pengawasan Pemprov Sumut ini dikelola secara bersama-sama dengan Kementerian Perhubungan.

Dua koridor utama yang akan dilayani oleh Pemprov Sumut adalah rute Binjai-Medan-Carrefour serta Lubukpakam-Amplas-Simpang Pelangi. Kehadiran BRT ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang bagi permasalahan transportasi yang selama ini menghambat mobilitas warga di kawasan Mebidang.

Baca juga: DPMPTSP Sumut Targetkan 177 Perusahaan, Pengawasan LKPM Diperkuat

Sekretaris Dinas Perhubungan Sumut, Rochani Litiloly, menyatakan optimisme tinggi terhadap kehadiran BRT ini. Ia menjelaskan bahwa tujuan utama dari proyek ini adalah untuk mengurangi emisi gas buang dan menekan penggunaan kendaraan pribadi.

Saat ini, penggunaan kendaraan pribadi terus meningkat karena minimnya transportasi umum yang memadai.Rochani berharap masyarakat dapat segera menikmati fasilitas transportasi massal yang lebih efisien ini pada tahun berjalan. 

Namun, pemerintah masih merumuskan detail kebutuhan jumlah bus yang diperlukan secara presisi. Selain itu, pembangunan depo pengisian daya untuk bus listrik juga sedang dipersiapkan secara matang.

Proses pemesanan bus listrik diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima bulan setelah kontrak selesai ditandatangani.

Hal ini dikarenakan bus listrik merupakan kendaraan yang dibuat khusus atau build up. Kebutuhan akan bus juga terus berubah, dari semula 17 koridor menjadi 14, dan kini stabil di 12 koridor.

Darwin Purba, seorang Tenaga Ahli Dishub Pemprov Sumut, mengungkapkan bahwa sistem BRT yang diterapkan mirip dengan konsep Jaklingko di Jakarta.

Baca juga:  Proses Seleksi KPID Sumut Dimulai, Pj Sekdaprov Pastikan Sesuai Mekanisme

Ia berharap agar angkutan kota yang sudah ada dapat berperan sebagai feeder atau pengumpan menuju jalur BRT utama.Konsep integrasi ini sangat penting agar sistem transportasi menjadi satu kesatuan yang utuh.

BRT akan memiliki jalur khusus sendiri, sehingga perjalanan akan lebih cepat dibandingkan kendaraan biasa. Sementara itu, angkot akan difungsikan untuk mengantar penumpang dari rumah ke halte BRT.

Upaya integrasi ini bertujuan agar semua moda transportasi dapat saling mendukung. Dengan adanya jalur khusus, BRT akan lebih cepat dan nyaman. Kemudian, angkot yang ada akan menjadi pengumpan yang efektif, sehingga semua terintegrasi dengan baik dalam satu sistem transportasi publik.

Keberadaan BRT Mebidang ini diharapkan dapat mengubah wajah transportasi di Sumatera Utara menjadi lebih modern dan hijau. Dengan mengurangi emisi dan kemacetan, kualitas hidup warga akan meningkat. Pemerintah terus memantau perkembangan proyek ini agar target operasional tahun ini dapat tercapai tepat waktu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA UTARA

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU