Sumatera Utara - Pemulihan pascabencana di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, menunjukkan perkembangan positif. Akses jalan yang sempat terputus akibat banjir dan longsor kini kembali dapat dilalui setelah aliran sungai berhasil dibersihkan dari sumbatan material.
Sebelumnya, kondisi di Tukka cukup memprihatinkan. Aliran Sungai Aek Godang dan Sungai Sigotom meluap ke badan jalan karena tersumbat kayu serta material longsor. Akibatnya, jalur utama berubah menjadi aliran air dan tidak dapat dilewati kendaraan.
Kecamatan Tukka menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup parah dalam bencana tersebut. Situasi ini bahkan mendorong Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, untuk menerobos banjir demi menyalurkan bantuan secara langsung ke lokasi pada awal Desember 2025.
Beberapa desa di Tukka sempat terisolasi selama beberapa hari. Aktivitas warga terganggu, distribusi bantuan terhambat, dan mobilitas nyaris lumpuh karena jalan tidak bisa digunakan.
Upaya pembersihan kemudian dilakukan dengan melibatkan alat berat. Sungai Sigotom dan Aek Godang menjadi fokus utama karena dua aliran ini berperan besar dalam menyebabkan luapan air ke jalan.
Baca juga: Menembus Medan Sulit, BA Koperasi Madina Konsisten Dampingi Desa Terpencil
Warga Kelurahan Tukka, Adian Siregar, mengatakan bahwa kegiatan pembersihan sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir. Alat berat dikerahkan untuk mengangkat kayu dan material longsor yang menyumbat sungai.
Menurut Adian, proses pembersihan melibatkan berbagai pihak. BPBD, BNPB, TNI, Polri, serta masyarakat setempat bekerja bersama membersihkan jalan dan membuat parit agar air mengalir normal.
Hasilnya mulai dirasakan warga. Aliran sungai kini lebih lancar, air tidak lagi meluap ke badan jalan, dan kendaraan sudah bisa melintas kembali di jalur menuju Kecamatan Tukka.
Dengan terbukanya akses, distribusi bantuan ke wilayah terdampak pun semakin lancar. Bantuan logistik lebih mudah masuk dibandingkan beberapa hari sebelumnya saat jalan masih tergenang air.
Baca juga: Menuju ASN Profesional, Pemkab Madina Gelar Profiling Berbasis Merit
Meski demikian, persoalan belum sepenuhnya selesai. Adian menyebutkan bahwa kebutuhan air bersih masih menjadi kendala bagi sebagian warga. Bantuan toren air sudah tersedia di hampir setiap dusun, namun jumlahnya belum mencukupi.
Warga lain, Marlina dari Dusun Gotom, menambahkan bahwa alat berat juga digunakan untuk membersihkan rumah dan lingkungan warga. Tanah hasil pengerukan dipindahkan ke lokasi yang lebih rendah agar tidak kembali menumpuk.
Ia berharap jumlah alat berat dapat ditambah agar proses pembersihan permukiman bisa berlangsung lebih cepat. Warga ingin segera kembali menjalani aktivitas normal setelah bencana yang melanda wilayah mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA UTARA