Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 10 JANUARI 2026 • 09:25 WIB

Sungai Terdampak Hidrometeorologi Jadi Perhatian Utama Pemkab Taput

Sungai Terdampak Hidrometeorologi Jadi Perhatian Utama Pemkab TaputTampak Sungai Aek Sigeoan di Tarutung, Tapanuli Utara. (ANTARA/Rinto Aritonang) 

Sumatera Utara - Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara terus mengupayakan percepatan pemulihan wilayah pascabencana alam. Salah satu fokus utama yang kini digenjot adalah penanganan sungai-sungai yang terdampak bencana hidrometeorologi.

Bupati Tapanuli Utara Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat menyampaikan bahwa pihaknya telah mengajukan usulan penanganan jaringan irigasi dan sungai kepada Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera II Medan.

Langkah tersebut diambil sebagai bagian dari upaya pemulihan infrastruktur yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat. Sungai tidak hanya berfungsi sebagai alur air, tetapi juga penunjang aktivitas pertanian dan kebutuhan sehari-hari.

Beberapa sungai yang menjadi prioritas penanganan antara lain Sungai Aek Sigeaon, Aek Haidupan, Batang Toru, Siandurian, serta Aek Sarulla. Sungai-sungai tersebut dinilai memiliki dampak langsung terhadap masyarakat sekitar.

Baca juga: Donasi Rp4,7 Miliar dari Batam Perkuat Upaya Pemulihan Bencana di Sumut

Bupati Jonius menjelaskan bahwa Kabupaten Tapanuli Utara telah memasuki fase transisi dari masa tanggap darurat menuju tahap pemulihan. Pada fase ini, penanganan infrastruktur menjadi perhatian utama.

Sebelumnya, pemerintah daerah telah memulai pembangunan hunian tetap bagi masyarakat terdampak bencana. Setelah itu, fokus diarahkan pada pemulihan sungai yang mengalami kerusakan akibat bencana.

Selain sungai, kebutuhan perbaikan dan pengamanan sumber air baku juga menjadi perhatian. Hal ini penting untuk menjamin ketersediaan air minum bagi masyarakat, khususnya di wilayah Pahae dan Adiankoting.

Jonius menegaskan bahwa penyamaan persepsi dan validasi data bersama Kementerian PU dan BBWS Sumatera II sangat diperlukan. Langkah ini bertujuan agar penanganan dilakukan secara tepat sasaran.

Baca juga: Mahasiswi FKIP UMSU Tampil di Program Sea Teacher Filipina

Rencana penanganan sungai-sungai terdampak tersebut didukung oleh anggaran sekitar Rp200 miliar. Anggaran ini difokuskan untuk perbaikan alur sungai serta pengamanan wilayah rawan bencana.

Ia berharap proses perbaikan dapat berjalan lancar dan mampu mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang. Pemulihan yang baik diharapkan memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Menanggapi usulan tersebut, Kepala BBWS Sumatera II Feriyanto Pawenrusi menjelaskan bahwa penanganan pascabencana masih berada pada tahap tanggap darurat.

Tahap selanjutnya akan memasuki rehabilitasi dan rekonstruksi yang diperkirakan berlangsung selama satu hingga dua tahun. Sementara itu, masa tanggap darurat membutuhkan penanganan cepat dalam kurun tiga hingga enam bulan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Sungai Terdampak Hidrometeorologi Jadi Perhatian Utama Pemkab Taput

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!