Senin, 01 DESEMBER 2025 • 08:42 WIB

Krisis BBM Madina Berlanjut: Warga Terpaksa Beli Mahal di Pengecer

Author

tampak mobil minyak di salah satu SPBU di wilayah Panyabungan, Mandailing Natal, Sabtu malam, (29/11. ANTARA/HO.) 

Sumatera Utara - Kelangkaan BBM di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) hingga Sabtu (29/11) malam masih belum sepenuhnya membaik. Meski suplai mulai masuk kembali, kondisi di lapangan tetap sulit karena dampak banjir dan longsor di wilayah Tabagsel sejak 24 November 2025.

Kepala Dinas Perdagangan Madina, Drs Parlin Lubis, menjelaskan bahwa kelangkaan bukan disebabkan stok kosong di Depot Pertamina Sibolga. Hambatan terjadi karena akses distribusi terputus total akibat bencana.

Karena itu, pemerintah daerah bersama Bupati Madina berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan Pertamina untuk membuka jalur suplai alternatif melalui Terminal BBM Dumai, Riau. Pengalihan ini dilakukan agar distribusi tidak bergantung pada jalur Sibolga yang masih terputus.

Walau suplai baru mulai masuk, situasi di SPBU tetap belum normal. Pertalite dan Solar masih sulit diperoleh dan antrean panjang terjadi di berbagai kecamatan. Kondisi ini dimanfaatkan oknum pengecer yang menjual BBM jauh di atas harga resmi.

Baca juga: Tanam Cabai Bareng Petani, Bobby Mantapkan Program Ketahanan Pangan Sumut

Harga Pertalite dilaporkan berada di kisaran Rp20 ribu hingga Rp40 ribu per liter, sementara Solar mencapai Rp16 ribu per liter. Dampak kelangkaan bahkan merembet ke gas LPG 3 kg yang dijual hingga Rp35 ribu per tabung.

Sejumlah warga, seperti Alwi dan Bahrum, mengaku terpaksa membeli BBM dengan harga tinggi karena kesulitan mencari pasokan. Bahkan para penarik beca di Panyabungan Timur tidak lagi beroperasi karena tidak mampu membeli bahan bakar.

Keluhan serupa datang dari warga Siabu, Kotanopan, hingga Pantai Barat Madina. Banyak warga rela antre mulai dari subuh untuk bisa mendapat BBM di SPBU yang masih beroperasi.

Hingga 29 November, terdapat tujuh SPBU yang menerima pasokan 8.000 liter Pertalite. SPBU Sarak Matua juga menerima tambahan 8.000 liter Bio Solar. Namun tingginya kebutuhan membuat kondisi tetap belum stabil.

Baca juga: Bobby Nasution Pastikan Bantuan Bencana Langsung Dikirim ke Titik-Titik Krisis

Masyarakat juga mendesak adanya penertiban terhadap praktik “tangki siluman”, yakni kendaraan rakitan yang diduga mengambil BBM dalam jumlah besar. Warga meminta sistem barcode MyPertamina diperketat agar pengawasan menjadi lebih efektif.

Penerapan pemindaian barcode secara ketat dinilai penting untuk mencegah kendaraan modifikasi melakukan pengisian berulang tanpa pengawasan. Warga berharap penertiban dapat membantu mempercepat normalisasi distribusi.

Kadis Perdagangan Madina juga meminta masyarakat tidak panik membeli BBM berlebihan. Pemerintah, kata Parlin, terus memantau perkembangan dan berharap distribusi kembali normal dalam beberapa hari mendatang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU