Sabtu, 19 JULI 2025 • 20:40 WIB

Baida Rani, Guru Muda yang Mengabdi di Pelosok Humbahas

Author

Baida Rani, seorang guru asal Aek Nabara Labuhan Batu yang mengabdi di sekolah daerah terpecil, Madrasah Humbang Hasundutan, desa Parmonangan, Kecamatan Pakkat. (Kemenag Sumut)

Sumatera Utara - Setiap pagi, langkah kaki Baida Rani harus menyusuri jalan berlumpur di Desa Parmonangan, Kecamatan Pakkat. Pemandangan ini jadi gambaran nyata semangat pengabdian seorang guru muda. Perempuan asal Aek Nabara, Labuhan Batu ini rela berjalan melalui jalan terjal menuju madrasah tempatnya mengajar.

Rani, kelahiran 1995, adalah CPNS yang ditempatkan di MIN Humbang Hasundutan sejak 2024. Sebelumnya dia mengajar di SMA dan SMK swasta di Tanjung Morawa. Pindah ke daerah terpencil tentu jadi tantangan baru dalam kariernya sebagai pendidik.

Baca juga: Kakanwil Kemenagsu : Penyuluh Agama Islam Jangan Gaptek, Harus Mengerti Dunia Digital

Mau ke sekolah? Cuma bisa pakai sepeda motor trail atau jalan kaki belasan menit. Tapi semua itu gak bikin Rani mundur - dia tetap hadir setiap hari buat mengajar anak-anak di pelosok negeri.

"Awalnya berat banget sih karena harus jauh dari keluarga, plus fasilitas juga terbatas," cerita Rani. Tapi semangat anak-anak yang luar biasa bikin dia bertahan, bahkan semakin bersemangat menjalankan tugasnya.

Kondisi madrasah memang pas-pasan. Ruang kelas sempit, kursi terbatas, jadi siswa harus duduk berdesakan. Meski begitu, antusiasme anak-anak tetap tinggi banget.

Bayangkan, sebagian siswa harus jalan kaki sampai 5 kilometer setiap hari buat sampai ke sekolah! Pemandangan ini yang bikin Rani makin termotivasi kasih pengajaran terbaik meski dalam keterbatasan.

Sebagai guru kelas, Rani juga ikut berbagai kegiatan sosial. Dia bantu guru senior menyusun program tambahan dan terlibat dalam pemeliharaan lingkungan madrasah.

"Jadi guru bukan cuma soal ngajar aja. Lebih dari itu, saya merasa ikut membentuk karakter dan semangat belajar anak-anak yang saya temui setiap hari," ujarnya.

Baca juga: Siapkan Program Anti Bullying di Sekolah, Medan Wujudkan Kota Layak Anak

Biar tetap semangat, Rani bentuk komunitas kecil sama guru-guru muda lainnya yang juga ditempatkan di daerah terpencil. Mereka saling dukung dan berbagi materi ajar.

Kepala madrasah, Ridawati Sinaga, sebut Rani sebagai sosok pahlawan sejati. Meski jauh dari keluarga dan fasilitas serba terbatas, dedikasinya gak pernah surut. Dia mengabdi dengan hati.

Rani percaya pendidikan adalah kunci perubahan. Ia siap terus bertahan, mengajar dengan hati, dan jadi bagian dari masa depan cerah anak-anak di pelosok negeri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Kemenag Sumut

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU