Duh, Konflik Tanah di Sumut Semakin Menumpuk dan Belum Ada Penyelesaian
Petani yang tergabung dalam Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) menunjukan sertifikat tanah saat melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (26/8). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
News
Kota Medan

Duh, Konflik Tanah di Sumut Semakin Menumpuk dan Belum Ada Penyelesaian

Jumat, 25 September 2020 19:18 WIB 25 September 2020, 19:18 WIB

INDOZONE.ID - Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumatera Utara, Amin Multazam, menilai konflik agraria semakin menumpuk jumlahnya dan hingga belum ada usaha penyelesaian yang efektif.

"Selain itu, konflik agraria tersebut menjadi sorotan yang sangat penting," kata Amin melansir Antara, Jumat (25/9).

Menurut Amin, persoalan konflik agraria di Sumatera Utara itu bak benang kusut yang sulit diurai. Namun, jika pemerintah memiliki kemampuan, maka konflik agraria perlahan-lahan dapat diselesaikan secara baik.

"Pendekatan yang dilakukan masih konvensional, cenderung menyampingkan hak rakyat kecil dan pro kepada pemodal besar," ujar dia.

Dikatakan Amin, berdasarkan pemantauan KontraS sepanjang 2020, saat ini setidaknya ada 30 titik konflik agraria yang terjadi di Sumatera Utara. Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, yakni terdapat 23 titik konflik.

Adapun konflik di atas lahan HGU paling banyak terjadi di wilayah pantai timur Sumatera Utara yang merupakan daerah perkebunan potensial.

Sedangkan persoalan eks HGU didominasi seputar 5.873,06 hektare yang tersebar di Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, dan Binjai.

"Sementara itu konflik imbas pembangunan dan masuknya industri skala besar terjadi di Deli Serdang, Langkat, dan Kawasan Danau Toba hingga Kabupaten Dairi," kata dia.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Nanda
Nanda

Nanda

Writer

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US