Banyak Perlintasan Liar di Sumut, PT Kereta Api Indonesia Tutup 82 Titik
Ilustrasi perlintasan liar kereta api. / istimewa
News
Kota Medan

Banyak Perlintasan Liar di Sumut, PT Kereta Api Indonesia Tutup 82 Titik

Senin, 30 November 2020 10:05 WIB 30 November 2020, 10:05 WIB

INDOZONE.ID - Tak kurang dari 252 perlintasan tak resmi alias liar di sepanjang rel kereta api tercatat oleh PT Kereta Api Indonesia Divre Regional I Sumatera Utara.

"Manajemen KAI Sumut masih terus melakukan penutupan perlintasan liar untuk menjaga keselamatan semua pihak. Hingga saat ini masih ada 252 perlintasan liar," ujar Manager Humas PT KAI Divre 1 Sumut, Mahendro Trang Bawono di Medan, Minggu (30/11/2020).

Menurutnya, jumlah total perlintasan sebidang di wilayah Divre I Sumut sebanyak 353 yang terbagi menjadi perlintasan sebidang resmi 92 titik dan liar 252 titik. Sedangkan untuk pelintasan tidak sebidang yang telah difasilitasi flyover dan underpass sebanyak 9 titik. 

"Manajemen KAI Sumut sendiri hingga November 2020 sudah menutup 82 titik perlintasan liar," katanya dilansir dari Antara.

Menurut Mahendro, penutupan perlintasan liar diharapkan bisa menekan angka kecelakaan di perlintasan kereta api. Kecelakaan di perlintasan sebidang kereta api sejak Januari -Oktober 2020 masih tinggi atau sudah 30 kejadian dengan tiga korban di antaranya tewas.

Selain bertujuan menekan angka kecelakaan di perlintasan kereta api, penutupan perlintasan liar itu untuk menyediakan ruang manfaat jalur kereta api.

Penyebab terjadinya kecelakaan di palang pintu perlintasan dan ruang manfaat jalur kereta api antara lain karena pengguna jalan masih tidak disiplin dalam melewati perlintasan antara lain dengan membuka perlintasan liar.

Dia menegaskan, larangan untuk tidak membuat perlintasan tidak resmi di atas jalur kereta api itu sudah diatur dalam Pasal 92 UU Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.

Sesuai ketentuan Pasal 201 UU No 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, menyebutkan setiap orang yang melanggar ketentuan itu di ancam pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1miliar.



Artikel Menarik Lainnya:

Raden Arman
Raden Arman

Raden Arman

Editor

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US