Pertanian Kopi Tapanuli: Kurangnya Pengetahuan Petani dan 'Sigarar Utang'
Ilustrasi petani kopi. (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)
News
Kab. Toba Samosir

Pertanian Kopi Tapanuli: Kurangnya Pengetahuan Petani dan 'Sigarar Utang'

Kamis, 30 Juli 2020 13:05 WIB 30 Juli 2020, 13:05 WIB

INDOZONE.ID - Tapanuli merupakan salah satu kawasan penghasil kopi jenis arabika terbesar di Indonesia.

Melansir Antara, Kamis (30/7), berdasarkan data Dinas Perkebunan Sumatera Utara, sebanyak 43.000 Ton (22 persen) kopi arabika di Indonesia berasal dari Tapanuli pada tahun 2018.

Untuk soal harga jual, kopi arabika sendiri bernilai lebih tinggi dibanding kopi robusta. Hal itu disebabkan produksi kopi arabika yang hanya berasal dari daerah dataran tinggi.

Kendati demikian, komoditas kopi arabika di Tapanuli dianggap tidak dapat menjadi tulang punggung perekenomian dari petani kopi itu sendiri.

Kondisi itu dikarenakan adanya keterbatasan pengetahuan dan kemampuan para petani dalam mengelola pertanian kopi. Selain itu, pertanian kopi di Tapanuli hanya dikatakan sebagai 'sigarar utang' (pelunas utang).

Pertanian kopi dianggap hanya menjadi pelunas utang untuk membayar pinjaman para petani ketika membeli pupuk yang digunakan untuk persawahan. Sebab, pertanian kopi bukan menjadi pertanian utama bagi warga.

Hal itu diakui oleh seorang petani kopi bernama Marojahan Simangungsong yang berada di Desa Siantar Utara, Toba. Keterbatasannya akan pengetahuan membuat dirinya dan rekan petani kopi lainnya tidak menggeluti pertanian kopi sebagai tulang punggung perekonomian.

Kopi hanyalah pertanian sekunder. Sementara, persawahan dan perladangan jagung menjadi pertanian utama warga.

Marojahan memulai pertanian kopi pada tahun 2009 sepulangnya dari Jambi. Dengan modal pengetahuan yang minim, dia mencoba cara bercocok tanam kopi yang dilakukan masyarakat di kampungnya.

Bibit kopi ditanam dengan jarak rapat agar dalam satu lahan dapat menampung banyak tanaman kopi. Metode konvensional itu dilakukan agar kopi yang dihasilkan juga semakin banyak.

Dia baru mendapat pengetahuan kopi pada tahun 2018 lalu melalui pelatihan yang diadakan PT Toba Pulp Lestari dan Pusat Penelitian Kakao dan Kopi Indonesia.

Sejak ikut pelatihan itu, dia mulai merubah pandangan mengenai kopi dan cara bercocok tanam pada pertanian kopi.

Meski sudah mengerti bagaimana metode pertanian kopi yang efektif, Marojahan mengakui bahwa kemampuan finansial atau faktor alam juga dapat menjadi penghambat pertanian kopi.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Zega
Nanda
Zega

Zega

Editor
Nanda

Nanda

Writer

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU