RUU Minol, Pemilik Lapo Tuak: Siapa yang Tanggung Biaya Kuliah Anak Saya?
Ilustrasi tuak. / istimewa
News
Kab. Simalungun

RUU Minol, Pemilik Lapo Tuak: Siapa yang Tanggung Biaya Kuliah Anak Saya?

Minggu, 15 November 2020 14:48 WIB 15 November 2020, 14:48 WIB

INDOZONE.ID - Pemilik Lapo Tuak di Desa Jangger Leto Kecamatan Panei, Maruli Silaban menyebutkan jika rancangan undang-undang (RUU) Larangan Minuman Beralkohol (Minol) diresmikan akan mematikan pendapatan keluarga. Pasalnya, usaha ini telah berlangsung puluhan tahun dan telah menjadi sumber pendapatan.

"Jika tuak dilarang oleh pemerintah siapa yang akan menanggung biaya kuliah anak saya dan hidup keluarga saya,karena selama ini biaya kuliah anak saya dan hidup keluarga saya dari menjual tuak yang merupakan minuman tradsional," ujar Silaban, Minggu (15/11/2020).

Menurutnya, ribuan manusia yang selama ini menggantungkan hidup dari menjual tuak akan terancam pendapatannya. Lalu, bagaimana dengan biaya sekolah dan kuliah anak mereka yang menuntut pendidikan.

"Jika tuak dilarang oleh pemerintah siapa yang akan menanggung biaya kuliah anak saya dan hidup keluarga saya,karena selama ini biaya kuliah anak saya dan hidup keluarga saya dari menjual tuak yang merupakan minuman tradsional," ujar Silaban.

Ketua Himpunan Masyarakat Toba (Humatob) Kabupaten Simalungun Pardomuan Nauli Simanjuntak mengharapkan pemerintah dan legeslatif tidak gegabah dan membahas dan mengesahkan RUU Larangan Minuman Beralkohol.

"Pemerintah dan DPR jangan gegabah,ribuan orang Batak akan kehilangan mata pencarian jika tuak yang merupakan minuman tradisional khas beralkohol dilarang dijual," sebut mantan anggota DPRD Sumatera Utara itu.

Sekadar diketahui tuak adalah minum tradisional beralkohol yang dikelolah etnis Batak, terutama etnis Batak beragama Non-Muslim.

Sebelumnya, Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Awi Setiyono menuturkan ada beberapa kasus di kepolisian yang dilatarbelakangi minuman beralkohol.

"Kalau boleh kami berikan gambaran, memang dalam beberapa kasus tindak pidana memang ada hal-hal yang memang dilatarbelakangi karena alkohol," ujar Awi di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (13/11/2020).

Berdasarkan catatan kepolisian sejak 2018 hingga 2020, kata Awi, perkara pidana yang dilatarbelakangi minuman keras ada sebanyak 223 kasus. 

"Jadi kasus ini biasanya misalnya kasus-kasus pemerkosaan, setelah diperiksa tersangkanya positif minum alkohol, kemudian terkait dengan kejahatan," jelasnya.




Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Raden Arman
Raden Arman

Raden Arman

Editor

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US