Pelaku Percabulan Anak Perempuan 14 Tahun di Medan Diminta Dihukum Seberat-beratnya
Ilustrasi korban asusila terhadap anak. (Pixabay)
News
Kota Medan

Pelaku Percabulan Anak Perempuan 14 Tahun di Medan Diminta Dihukum Seberat-beratnya

Kamis, 16 Juli 2020 13:02 WIB 16 Juli 2020, 13:02 WIB

INDOZONE.ID - WL, anak perempuan berusia 14 tahun menjadi korban percabulan oleh guru sekaligus pimpinan Panti Asuhan Simpang Tiga, Medan, Sumatera Utara (Sumut). Korban dicabuli sejak dia berusia 7 tahun dan sampai kini masih mengalami trauma atas perbuatan bejat yang dilakukan pelaku, berinisial ES. 

Desakan hukuman berat kepada pelaku ES disampaikan pendamping korban, Riri Novita Sari dari Satuan Bhakti Pekerja Sosial Kemensos RI, usai sidang perdana di Pengadilan Negeri Medan, Rabu (15/7/2020). Riri Novita sari berharap agar pelaku dihukum seberat-beratnya.

"Kami mengecam keras pelaku, karena selama ini kita bermitra dalam kegiatan perlindungan anak. Korban yang harusnya diayomi, dilindungi dari perbuatan yang mengancam keamanannya, justru mendapat perlakuan yang keji,” ucapnya 

Desakan serupa juga disampaikan Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Komalasari Sari. Sebab, perbuatan terdakwa mengakibatkan korban mengalami trauma yang sangat mendalam.

“Traumanya itu sangat luar biasa,” ucapnya.

Atas perbuatan pelaku, Komalasari juga berharap agar Ebit Natal Nael Simbolon dihukum dengan seberat-beratnya. 

"Kalau bisa dihukum kebiri, karena ini perbuatan yang sangat keji,” ujarnya.

Di lain sisi, LBH Apik, Cut Betty juga bersependapat dengan LPAI. Katanya, perbuatan pelaku sangat tidak manusiawi karena korban telah pengalaminya usia 7 tahun.

“Perkosaan itu dilakukan hampir setiap harinya yang membuat korban mengalami trauma berat,” ucapnya

Awal Terungkap

Kasus asulisa ini terungkap berdasarkan laporan korban yang diwakilkan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (P3APM) Kota Medan.

Pendamping korban dari Dinas P3APM mengatakan, Delisah, mengatakan sejak usia enam tahun korban berinisial WL sudah tinggal di Panti Asuhan Simpang Tiga. Ironisnya, sejak umur 7 hingga 13 tahun, dia menjadi korban pencabulan terdakwa. Tak heran bila korban mengalami trauma berat.

"Perbuatan terdakwa ini sangat kejam," katanya.

Masih berdasarkan penjelasan JPU, terungkapnya kasus ini bermula pada bulan Desember 2019, saat korban mengadukan kejadian yang dialaminya kepada teman sekolahnya. 

Selanjutnya teman korban melaporkannya ke Kepala Lingkungan (Kepling) dan dilanjutkan ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Pada persidangan, dihadirkan korban WL, keterangan 3 saksi (dari 5 saksi) berkaitan kasus dugaan pencabulan tersebut.

“Kedua saksi lainnya, kita minta keterangannya pada sidang berikutnya, salah satu saksi yakni istri terdakwa," kata JPU Robert Silalahi. 

Sidang Perdana

Sidang perdana kasus percabulan terhadap bocah perempuan berusia 14 tahun itu telah digelar di Pengadilan Negeri Medan, Selasa (14/7/2020). 

Saat persidangan, korban WL sempat pingsan diduga karena trauma dengan perbuatan asusila yang dialaminya selama tujuh tahun. 

Korban saat itu dihadirkan sebagai saksi datang dengan memakai kursi roda. Adapun agenda sidang pada hari itu adalah untuk mendengar keterangan saksi dan berlangsung tertutup. Majelis Hakim menghadirkan lima orang saksi, termasuk WL yang menjadi korban asusila.

Terdakwa, ES, merupakan Kepala Panti Asuhan Simpang Tiga, yang juga merupakan guru di panti asuhan yang berlokasi di Jalan Buku, Medan Petisah, Medan itu. 

Pada saat persidangan berlangsung, tiba-tiba korban sempat tidak sadarkan diri. Diduga dia pingsan karena mengalami trauma. 

Jaksa Penuntut Umum Robert Silalahi mengatakan, terdakwa berinisial ES selain menjabat sebagai Kepala Panti Asuha Simpang Tiga tempat korban tinggal juga berprofesi sebagai guru, telah lama melakukan perbuatan asusila terhadap korban, atau kurang lebih selama tujuh tahun. 

"Sudah lama terdakwa ini melakukan perbuatan kejinya kepada korban. Kurang lebih tujuh tahun sejak korban masih berumur tujuh tahun," ujar Robert, seusai persidangan, Rabu (15/7/2020).

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Tonggo Simangunsong

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US