Mengenal Pustaha Laklak, Budaya Tradisi Tulis Menulis di Batak
Contoh Pustaha Laklak. (Dok. Perpustakaan Budaya)
Life
Nasional

Mengenal Pustaha Laklak, Budaya Tradisi Tulis Menulis di Batak

Minggu, 19 Juli 2020 09:20 WIB 19 Juli 2020, 09:20 WIB

INDOZONE.ID - Batak mempunyai budaya tradisi tulis menulis yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Namanya Pustaha Laklak, karya tulis yang berisi tentang ilmu-ilmu hitam seperti seperti pangulubalang, tunggal panaluan, pamunu tanduk, gadam, dan lain sebagainya.

Pustaha laklak ditulis di atas kulit kayu yang dilipat menggunakan mode concertina (semacam akordion) dan terkadang dilengkapi dengan papan. Meskipun bahasa Batak terdiri dari banyak dialek, namun bahasa tulis pada Pustaha Laklak tetap ditulis seragam tanoa mengurangi ciri khas lokalnya.

Setidaknya di Sumatera Utara, daerah etnis Batak berasal ada lima jenis aksara Batak yang diwariskan oleh nenek moyangnya, yakni Aksara Toba, Aksara Karo, Aksara Mandailing, Aksara Dairi, dan Aksara Simalungun. Kelima aksara tersebut dijadikan sebagai dasar penulisan Pustaha Laklak.

Selain berisi tentang ilmu-ilmu hitam, pustaha laklak juga berisi karya tulis tentang ilmu putih seperti balak dan pagar. Ada juga tentang ilmu nujum seperti meramal dengan menggunakan tanda-tanda binatang dan masih banyak ilmu-ilmu lainnya.

Selain itu, Pustaha Laklak juga bisa berisi tentang rahasia pengobatan tradisional menggunakan ramuan tanaman rempah-rempah.

Churmatin Nasoichan dalam bukunya Media Penulisan Pustaha Laklak mengatakan bahwa tidak semua orang Batak memiliki kemampuan untuk menulis Pustaha Laklak. Sebab menulis Pustaha Laklak harus dilakukan dengan ritual yang dipimpin oleh seorang datu dan dilakukan pada hari-hari tertentu.

Itu makanya, Pustaha Laklak bisa dikatakan sebagai kitab sakral yang pembuatannya seperti halnya membuat objek-objek sakral lainnya semisal patung pangulubalang dan tongkat tunggal panaluan.

Pustaha Laklak terbuat dari kertas sebuah pohon yang bernama kayu alim. Kayu ini merupakan salah satu spesies dalam genus Aquilaria yang berasal dari Asia Tenggara.

Di Sumatera Utara, pohon kayu alim bisa ditemukan di daerah Barus Hulu, di sekitar Pardomuan, Kabupaten Dairi dan juga daerah Pulau Raja, Kecamatan Bandar Pulau, serta Kabupaten Asahan. Kulit kayu tersebut dikupas dari pohonnya dalam kupasan yang panjangnya bisa mencapai 7 meter dan lebarnya hingga 60 cm tergantung pada besarnya pohon.

Pustaha Laklak ditulis dengan menggunakan tinta hitam, penulisannya dibuat berlipat-lipat dan bolak-balik yang bertujuan untuk memudahkan pembacanya. Setiap lembaran Pustaha Laklak berwarna cokelat muda kejinggaan dan terdapat serat-serat halus yang memang menunjukkan bahannya dari kulit kayu.

Untuk saat ini, Pustaha Laklak dapat dijumpai di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara. Ada lebih dari 200 Pustaha Laklak yang disimpan, baik itu di ruang tata pamer maupun di ruang koleksi.

Selain itu, Pustaha Laklak juga disimpan di Museum Nasional Jakarta, dan juga disimpan di museum-museum luar negeri seperti di Belanda dan Jerman.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Zega
Nanda
Zega

Zega

Editor
Nanda

Nanda

Writer
TERKAIT DENGAN INI

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US