Cetak Prestasi Internasional, Guzheng Dilestarikan Melalui Jade Musician di Sumut
Pemain Guzheng atau Kecapi dari Jade Musician (foto/istimewa)
Life
Kota Medan

Cetak Prestasi Internasional, Guzheng Dilestarikan Melalui Jade Musician di Sumut

Jumat, 01 Oktober 2021 10:58 WIB 01 Oktober 2021, 10:58 WIB

INDOZONE.ID - Sumatera utara merupkan provinsi yang memiliki kemajemukan suku dan etnis. Dari beberapa suku dan etnis yang ada, tentunya memiliki musik tradisional masing-masing.

Satu di antaranya etnis Tionghoa di Sumut, yang memiliki musik dan alat musik tradisional sendiri. Seperti alat musik Guzheng.

Pendiri Komunitas Jade Musician, Ngartini Huang mengatakan Guzheng merupakan alat musik China yang paling popular dan mempunyai suara yang merdu serta instrument yang paling ekspresif.

Cara memainkannya, katanya, dengan cara memetik senar, serta menggunakan kepekaan jiwa, kelembutan perasaan, dan penguasaan teknik yang mengalir ke tangan kanan dan kiri adalah penting serta saling berhubungan.

"Jadi saya mengutip kata dari prof. Tran van Khe 'jemari tangan kanan melahirkan suara, akan tetapi jemari tangan kiri memberikan jiwa ke lagu yang dimainkan' sehingga akan terjadi keselarasan antara otak kiri dan kanan," ungkapnya kepada Indozone, Jumat, (1/9/2021).

Selain itu, ia juga sampaikan bahwa alat musik Guzheng di Sumut, dilestarikan melalui Jade Musician. Yakni, sebuah komunitas pemusik Guzheng atau Kecapi Tioingkok terbesar di Sumut.

Komunitas itu dirikan olehnya di Kota Medan dengan tujuan untuk melestarikan musik tradisional Tionghoa di Indonesia, terkhusus di Medan.

"Komunitas ini dibilang komunitas Guzheng bersekala terbesar di Sumut, karena komunitas Jade Musician ini sering mengadakan acara bersekala besar. Seperti, acara geethering, pertujunakan musik Guzheng bersekala besar, acara weading, dan komunitas yang pernah mengisi event-event olahraga basket bersekalah internasional pada tahun 2018, bahkan acara kenegaraan," akuinya.

Disingung tentang latar belakang nama komunitas Jade Musician, ia pun membeberkan, bahwa nama tersebut tercipta karena sang pendiri komunitas menyukai batu giok.

"Jadi, nama tersebut diambil dari bahasa Ingris “Jade” yang berarti “giok”. Sebab, saya percaya bahwa nama tersebut memberikan energi positif dan nilai ekslusif terhadap komunitasnya," jelasnya.

Kemudian, ketika ditanya sudah berapa lama di Sumut? ia pun menjawab bahwa komunitas tersebut lebih kurang sudah ada 12 tahun. Meskipun, komunitasnya baru berdiri 12 tahun, tetapi sudah mencetak banyak prestasi di kanca Nasional dan Internasional. Tak hanya itu saja, sang pendiri komunitas Jade Musician menjadikan komunitasnya menjadi sekolah pertama Guzheng di Kota Medan. Tempatnya terletak di Jalan Singosari, Kelurahan Sei Rengas Permata, Kecamatan Medan Area.

"Ini semua dikarenakan komunitas Jade Musician bisa go internasional, dan berkolabosrasi serta mendalami musik Guzheng di Shanghai atau negara lainnya. Terutama, pada mulanya adanya kerja sama dengan salah satu sekolah musik di Shanghai," katanya.

"Awalmulanya, ini tidak berbentuk sekolah tetapi sebuah komunitas dan adanya privat alat musik Guzhengnya," sambungnya.

Selanjutnya,  saat ditanyai tentang memulainya atau mempopulerkan musik Guzheng di Sumut. Ia katakan dimulai dari tahun 2005. Baik sosiaolisasi dengan tetangga, teman dan sekitar masyarakat Medan, khususnya dengan cara memperkenalkan sebuah prestasi dari bermain alat musik Guzheng.

Ia juga mengakui untuk mempopulerkan bermain alat musik Guzheng, merupakan hal yang tak muda atau gampang. Sebab, landasan visinya ingin mempopulerkan alat musik tersebut dari tradisional menjadi modern. Kemudian, alat musik tersebut bisa diminati semua kalangan, terkhusus kaum milenial di Kota Medan dan Sumut.

“Saya berharap bukan hanya di usia 40 tahun atau 50 tahun yang mengerti tentang alat musik Guzheng. Tetapi, di usia 3 tahun sampai kaum milineal baru tahu terkait alat musik ini. Jadi, saya dan komunitas saya tetap membawa alat musik tradisional Tiongkok ini, bagi yang ingin mendengarkannya,” ujarnya.

Hal ini juga dikarenakan, pada awalnya sebagian masyarkat Medan belum mengerti terkait alat musik Guzheng, terkhusus di usia muda. Tetapi, untuk sebagian orang tionghoa Medan usia 50 atau 40 tahun ke atas sudah mengetahui alat musik tersebut. Hal itu pun, karena faktor film-film kebudyaan China yang ditayangkan di Televisi.


"Nah, bagi masyarakat Medan yang inigin menjadi anggota komunitas Jade Musician bisa bergabung di Jade Music School. Namun, menjadi anggota komunitas dari Jade Musician, harus sudah pernah atau sudah belajar dua tahun memainkan alat musik Guzheng," katanya.

Miris, Unggah Slip Gaji Rp368.00, Lisa Amelia Dipecat Hingga Terjerat UU ITE
Biadab! Pemulung Asal Sumsel Rudapaksa Bocah Laki-laki di Masjid
Sadis! Mantan Anggota DPRD Sergai Tewas Mengenaskan, Kaki Diikat Hingga Dada Ditikam


Aqmarul Akhyar

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US